Tuesday, 12 March 2019

Nasehat Ali bin Abi Thalib



“Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu."

“Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.”

“Setiap orang yang hendak dijemput oleh ajalnya meminta lebih banyak waktu. Sementara semua orang yang masih memiliki waktu membuat alasan untuk menunda-nunda.”

“Ilmu tanpa akal ibarat seperti memiliki sepatu tanpa kaki. Dan akal tanpa ilmu ibarat seperti memiliki kaki tanpa sepatu.”

“Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya.”

“Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya.”

“Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.”

“Seorang teman tidak bisa dianggap teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan" :
1.di saat membutuhkan.
2.di belakang Anda.
3.setelah kematian Anda.

Sunday, 3 March 2019

Sabarlah, sebentar lagi

Saat rasa menyerah mulai mengarah
Maka sedikit menengok ke belakang
Bisikkan kata
Sabarlah, sebentar lagi
Beragam hal toh sudah bisa terlewati

Masalah ini juga bisa terlewati juga

Aku punya Allah maha segalanya
Kenapa masih ada ragu sama skenarionya?

Tetap saja ingat
Allah takkan mengecewakan hambaNya
Sungguh sangat mudah bagiNya untuk berbuat sesuatu

Maka sungguh hanya karena Dia
Aku mendekat lagi dan mendekat lagi

Wednesday, 11 July 2018

memantaskan diri


memantaskan diri untuk diringankan siksa kuburnya
memantaskan diri untuk ditolong rasulullah di telaga kautsar
memantaskan diri untuk dinaungi awan di padang mahsyar nanti
memantaskan diri untuk diampuni Allah atas segala dosa
memantaskan diri untuk dijauhkan dari api neraka
memantaskan diri untuk dimasukkan ke dalam surgaNya
itulah sebaik-baik tujuan memantaskan diri

Sunday, 8 July 2018

Aku Belum Baik

Pernah gak denger orang bilang kayak begini. 
Mbaknya itu loh kerudungnya lebar tapi ketawanya masih ngakak gitu
Mbaknya itu lho sudah pake jilbab masih aja banyak tingkah
Mbaknya itu loh, begini
Mbaknya itu loh,  begitu

Katanya sudah hijrah, harusnya semuanya jadi baik dong. Akhlaknya,  sopan santunnya,  semuanya. 


Malah ngeri lagi yg komentar gini.  Mending kayak aku gini. Buruk buruk aja,  belum bisa pake kerudung lebar,  belum pakai jilbab. Ya karena masih belum sempurna perilakunya. 



Iya,  yang hijrah penampilan saja masih susah istiqomah.  Apalagi yang belum.... 



Aduh.... Mbak hijrah pakaian kami yg sesuai syariat ini salah satu cara kami supaya istiqomah. Buat rem istilahnya,  tapi tetap saja kami manusia biasa. Masih futur juga. 

Islam itu syariatnya baik sempurna
Nah muslimnya yg kadang khilaf tidak sempurna


Tetap ingat mbak mbakku,  adekku,  saudaraku seiman,  berpakaian sesuai syariat itu wajib hukumnya.

Muslimah harus selalu memperbaiki diri. 
Ya muqollibal qulub. Tsabit qolbi alaa diniik. 
 

Wednesday, 6 June 2018

Tentang kedatangan


Suatu pasti yang bukan janji
Langkah berani yang cukup sebagai bukti
Aku di sini dengan pikir penuh
Aduhai....
Nyatanya memastikan hati itu sulit
Mengadu berkali kali pun masih bimbang
Iya aku tahu, menetapkan pilihan
memang tak semudah membalik telapak tangan
Karena di sana ada masa depan yang tak bisa kutebak
Doaku
Semoga apa yang berlaku
Diberkahi oleh Sang Pencipta
Aku yang penuh cemas
Aku yang penuh ragu
Aku yang sedang bimbang
Padahal soal qadha sudahlah tahu
Begitulah aku adanya
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ

Friday, 27 October 2017

Pakaian



Pakaian wanita dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung) . Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun binatang, atau di pasar-pasar.
Apakah pengertian jilbab? Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah”

Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).

Apabila ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Dalil mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung) :
'Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.' (QS An Nuur : 31)

Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab) :
'Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.' (QS Al Ahzab : 59)

Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu 'Athiah RA, bahwa dia berkata :
'Rasulullah SAW memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata,’Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Maka Rasulullah SAW menjawab: 'Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!'(Muttafaqun ‘alaihi) (Al-Albani, 2001 : 82).

Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, Juz I hal. 388, mengatakan :
“Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar [rumah] jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).



Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu 'Athiah RA di atas, yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab –untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum)—maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi SAW tidak akan memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.

Untuk jilbab, disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terulur sampai ke bawah sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan : “yudniina ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka.).

Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Penafsiran ini –yaitu idnaa` berarti irkhaa` ila asfal-- diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda :

“Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi SAW menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’(yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab,’Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” (HR. At-Tirmidzi Juz III, hal. 47; hadits sahih) (Al-Albani, 2001 : 89)

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi SAW, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah --yaitu jilbab-- telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.

Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan).(An-Nabhani, 1990 : 45-51)

*semoga dapat istiqomah dalam brpakaian seperti penjabaran di atas. Karna memang banyak ditemukan kendaladalam menerapkan pakaian sesuai Prinsip di atas.
Bberapa instansi terkadang tak menerima anggota instansinya sprti itu. Dan apabila anda trmasuk dlm org tersebut. Tetap istiqomah. Jadikan ladang dakwah. Dengan berbagai penjelasan Prinsip anda tersebut mu gkin beliau yg tidak tau akan menjadi tau. Semoga Allah memudahkan lisan kita seua utk menjelaskan Syariat tersebut. Selanjutnya, serahkan smua hasil perkara pada Allah SWT.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?[alankabut:2].
Keep istiqomah. Innallaha ma'ana.

Monday, 23 October 2017

Jika kelak kau tak Temukan aku di surga


Tuesday, 17 October 2017




 Jika kelak aku menikah dengan yang sebaya, aku ingin melukis kisah semisal 'Ali dan Fathimatuzzahra. Keduanya, saling mencintai karena iman. Fathimah yang sabar walau suami pulang tanpa membawa harta, juga Ali yang tetap bertanggung jawab meski harus bekerja sebagai kuli dengan gaji segenggam kurma. Ah,  indahnya... .
.
.
.

Jika kelak aku menikah dengan yang lebih tua, aku ingin memahat cerita seperti Usman bin 'Affan dan Naila as-Syam. Keduanya, tetap menyayangi walau yang satu telah beruban dan yang satu lagi berumur belasan. Duhai, sebaik-baik guru adalah suami yang shaleh. Maka Naila belajar pada Usman yang lebih dewasa.  Belajar untuk semakin menshalehahkan diri, hingga, ia merelakan jemarinya putus karena menahan pedang musuh yang hendak membunuh suaminya. Dan seba'da Usman wafat, konon, Naila mencakar wajah cantiknya agar tak ada seorang pun yang mau melamarnya. Ia amat mencintai kekasih jiwanya. .
.
.
.

Jika kelak aku menikah dengan yang lebih muda,  aku ingin mengukir cinta laksana Rasulullah SAW dan Khadijah al-Kubra. Keduanya, saling mengasihi sekaligus menebar cinta pada sesama. Khadijah adalah sebaik-baik istri, ia senantiasa menenangkan seperti seorang ibu, ia selalu menemani seolah sahabat sejati, ia mengorbankan harta benda demi dakwah sang suami. Dan sungguh hanya Khadijah-lah, cinta pertama yang tak pernah dimadu oleh sang Rasul. .
.
.

Di atas pernikahan, umur tak lagi jadi soalan. Sebab nikah adalah proses pendewasaan diri, proses perbaikan diri, dan proses menshalehakan diri. Sesekali,  jadikan pasangan kita sebagai guru, kita hormat padanya. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai sahabat, kita tertawa bersamanya. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai adik, kita manjakan ia sepenuhnya. .
.
.

Sekali lagi setelah menikah, yang terpenting bukan tentang usia berapa, tapi tentang perjalanan seperti apa. Dan pastikan, perjalanan rumah tangga kita seperti pelangi, banyak warna yang menaungi.