Sunday, 24 May 2015

Hati-hati dengan Prasangka

Seorang Ayah hidup sendirian dengan putranya yang berumur 7 tahun. Kemiskinan membuat anak tersebut harus membantu ayahnya berjualan di pasar, karena miskin sang anak tak pernah bermanja-manja dengan sang ayah. Pada suatu musim dingin setelah sang ayah menata dagangannya, sang ayah melihat keranjang dagangannya rusak dan sang ayah berpesan kepada sang anak untuk menunggu di rumah karena ia kan membeli keranjang baru. Saat pulang sang ayah tidak menemukan sang anak di rumah. Sang ayah langsung menjadi sangat marah, anaknya benar-benar tidak tau diri hidup susah masih saja bermain-main padahal tadi sudah dipesab agar menunggu di rumah. Akhirnya sang ayah pergi sendiri berjualan kie pasar dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar sang anak tidak dapat masuk. Sang anak mesti diberi pelajaran, pikirnya. Sepulang dari berjualan di pasar sang ayah menemukan sang anak tergeletak di depan pintu rumah. Sang ayah memeluk sang anak yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Sang ayah membawa tubuh anaknya ke dalam rumah dan terus mengguncang tubuh anaknya, tetapi tetap saja anaknya diam karena sudah meninggal. Tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan sang anak. Sang ayah mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yang dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang dibungkus dengan kertas usang. Tulisan sederhana ada di kertas tersebut, tulisan tangan kecil sang anak yang berantakan tapi dapat dibaca “Ayah pasti lupa ini hari istimewa bagi ayah, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, ayah selamat ulang tahun.” Sang ayah pun menyesal karena telah berprasangka buruk kepada anaknya. Dia kini sadar bahwa sebelum mengetahui tentang suatu hal kita tidak boleh berprasangka buruk. (Inspirasi cerita nyata anak yg berasal dari tiongkok)