LAMPIRAN
URAIAN MATERI
Pertemuan ke 1 :KD: mengidentifikasi data mutasi persediaan
PERSEDIAAN BARANG DAGANG (INVENTORY)
Persediaan barang dagangan adalah barang-barang yang disediakan untuk dijual kepada para konsumen selama periode normal kegiatan perusahaan.
Persediaan yang dimiliki perusahaan pada awal periode akuntansi, disebut persediaan awal. Persediaan yang dimiliki oleh perusahaan pada akhir periode akuntansi disebut dengan persediaan akhir dan akan dilaporkan dalam neraca sebagai aktiva lancar yaitu pada rekening persediaan dan dipihak lain dicantumkan dalam laporan rugi-laba sebagai salah satu elemen yang akan berpengaruh pada penentuan laba bersih perusahaan.
Prosedur pencatatan sediaan barang dagangan
Dalam hubungan dengan jenis, ukuran, dan harga barang, sediaan barang dagangan dapat dicatat dengan beberapa metode, antara lain:
a. Metode pencataatan sediaan individual. Dapat digunakan untuk keadaan barang-barang sebagai berikut,
1. Barang secara individu dapat dibedakan dengan barang sejenis lainnya. Misalnya dari merk, nomor, dan tahun pembuatannya.
2. Harganya relatif tinggi, misalnya : mesin jahit, televisi, kendaraan, dan sebagainya.
b. Metode pencataatan kolektif, dapat digunakan untuk keadaan barang-barang sebagai berikut :
1. Secara individual tidak dapat dibedakan dengan barang sejenis lainnya.
2. Harganya relatif murah, misalnya sabun mandi, sampo, mentega, dan sebagainya.
Dokumen transaksi dan buku yang diperlukan
a. Dokumen transaksi yang diperlukan
Dokumen transaksi dan bukti pendukung yang terkait dengan pencatatan mutasi sediaan barang dagangan adalah sebagai berikut.
1. Surat permintaan pembelian
2. Surat order pembelian
3. Laporan penerimaan barang
4. Faktur pembelian surat order pengiriman barang
5. Faktur penjualan
6. Memo kredit
b. Buku-buku yang digunakan
1. Buku jurnal pembelian, sebagai tempat mencatat transaksi pembelian kredit
2. Buku jurnal penjualan, sebagai tempat mencatat transaksi penjualan kredit
3. Buku jurnal pengeluaran kas, sebagai tempat mencatat transaksi pembelian tunai
4. Buku jurnal penerimaan kas, sebagai tempat mencatat transaksi penjualan tunai
5. Buku jurnal umum, sebagai tempat mencatat transaksi-transaksi pembelian dan penjualan retur
6. Kartu sediaan, sebagai tempat mencatat transaksi mutasi tiap jenis barang secara individual.
Sistem pencatatan sediaan barang dagangan
Pada dasarnya ada dua sistem pencatatan sediaanbarang dagangan, yaitu sistem invetarisasi fisik (phisical system) dan sistem perpetual (perpetual system).
Pencatatan sistem perpetual
Prosedur pecatatan sediaan sistem perpetual ialah sebagai berikut.
1. Faktur pembelian dicatat dalam buku jurnal pembelian dengan mendebet akun sediaan, kredit akun hutang dagang. Transaksi yang bersangkutan dicatat juga dalam kartu sediaan.
2. Memo kredit yang diterima dari kreditor sebagai bukti transaksi pembelian retur
• Dicatat dalam buku jurnal atau jurnal pembelian retur dengan mendebet akun hutang dan kredit akun sediaan.
• Dicatat dalam kartu sediaan barang yang bersangkutan sebagai pengeluaran sebesar harga beli barang yang dikembalikan kepada kreditor
3. Faktur penjualan sebagai bukti transaksi penjualan kredit
• Dicatat dalam buku jurnal penjualan dengan mendebet akun piutang dagang, kredit akun hasil penjualan.
• Harga pokok barang yang dijual (harga pokok penjualan) dicatat debet akun harga pokok penjualan, kredit akun sediaan.
• Harga pokok barang yang dijual dicatat dalam kartu sediaan barang yang bersangkutan sebagai pengeluaran (mutasi keluar).
4. Memo kredit yang dikirimkan kepada debitor sebagai bukti transaksi penjualan retur.
• Dicatat dalam buku jurnal umum atau jurnal penjualan retur dengan mendebet akun retur penjualan dan kredit akun piutang dagang.
• Harga pokok barang yang diterima kembali dicaatt debet akun sediaan, kredit akun harga pokok penjualan.
• Harga pokok barang yang diterima kembali dicatat dalam kartu sediaan barang yang bersangkutan sebagai pemasukan sebagai pemasokan (mutasi masuk)
Data mutasi sediaan barang CX untuk bulan januari 2004, sebagai berikut:
• Januari 1, sediaan barang CX seharga Rp.10.000.000,00
• Januari 15, faktur no. 662 dari PT Gilang untuk pembelian barang CX seharga Rp.50.000.000,00
• Januari 25, faktur no.224 dikirimkan kepada PT.RESTUNA untuk penjualan barang CX seharga Rp. 80.000.000,00. harga pokok barang yang bersangkutan sebesar Rp.45.000.000,00
• Januari 27, memo kredit no.07 dikirimkan kepada PT.RESTUNA untuk penjualan barang CX seharga Rp.1.000.000,00, harga pokok barang CX yang bersangkutan sebesar Rp.600.000,00
Buatlah prosedur pencatatan sesuai sistem perpetual, dengan terlebih dahulu membuat jurnal yang diperlukan dan pencatatannya dalam buku besar?
LAMPIRAN MATERI :
RETUR DAN POTONGAN PEMBELIAN
Seperti halnya transaksi penjualan, dalam transaksi pembelian terdapat juga retur pembelian. Apabila barang yang dibeli dari pemasok ternyata rusak atau tidak memuaskan, maka biasa pembeli mengembalikan barang tersebut dan utang kepada pemasok menjadi berkurang. Kemungkinan lain adalah barang tersebut tidak dikembalikan oleh pembeli tapi ia meminta potongan harga. Untuk mencatat kejadian ini biasanya digunakan rekening Retur dan Potongan pembelian.
Perpetual : Kas/Utang dagang xx
Persediaan barang dagang xx
Transaksi retur pembelian sebenarnya dapat dicatat dengan mengkredit rekening pembelian. Namun banyak perusahaan menyukai rekening retur dan potongan pembelian, karena dari rekening ini dapat diketahui jumlah retur pembelian yang terjadi selama periode.
Rekening retur dan potongan pembelian merupakan rekening lawan terhadap rekening pembelian. Saldo rekening retur dan potongan pembelian harus dikurangkan terhadap jumlah pembelian kotor, sehingga dapat diketuhi pembeeian bersih.
POTONGAN TUNAI PEMBELIAN
Apabila barang dagangan dibeli secara kredit maka syarat pembayarannya ditulis pada faktur peembelian. Pemasok biasanya memberikan potongan kepada pembeli yang membayar dalam waktu yang telah ditentukan. Jika penjual memberikan potongan tunai, maka potongan tersebut oleh pembeli dinamakan potongan tunai pembelian.
Perpetual : Utang dagang xx
Persediaan barang dagang xx
Kas xx
RETUR DAN POTONGAN PENJUALAN
Barang dagangan yang telah terjual mungkin saja dikembalikan oleh pelanggan (retur penjualan) atau karena barangnya cacat atau karena alasan lain sehingga pembeli tidak puas. Kepada pelanggan diberikan potongan dari harga semula barang yang dijual tersebut (potongan penjualan). Bila retur penjualan atau potongan penjualan menyangkut penjualan kredit, biasanya penjual menyampaikan nota kredit (Credit Memorandum) kepada pelanggan.
Perpetual : Retur penjualan xx
Kas/ Piutang dagang xx
Sumber :Accounting Principles, Fourth Edition,1996
Nota kredit itu menunjukkan jumlah yang dikreditkan pada pelanggan serta alasan pengkreditan tersebut.
Retur penjualan pada hakikatnya merupakan pembatalan atas penjualan yang telah dilakukan perusahaan (baik sebagian ataupun seluruhnya). Pengaruh Retur ataupun potongan penjualan adalah berkurangnya pendapatan penjualan dan berkurangnya kas atau piutang dagang.
Bila perkiraan penjualan didebet, maka saldo perkiraan penjualan ini pada akhir periode akan menunjukkan penjualan bersih (net Sales), dan jumlah retur dan potongan penjualan tidak akan diungkapkan lagi. Karena berkurangnya pendapatan disebabkan oleh potongan penjualan, dan berbagai beban yang berkaitan dengan pengembalikan barang (angkutan, pengepakan, perbaikan, penjualan kembali dan sebagainya), disarankan agar jumlah transaksi seperti ini diketahui oleh manajemen. Kebijakan semacam ini akan memungkinkan manajemen menentukan sebab-sebab retur dan potongan tersebut, seandainya jumlahnya sangat besar, dan untuk mengambil tindakan perbaikan. Kerena alasan inilah kita cendrung mendebet perkiraan yang disebut Retur dan potongan penjualan ( Sales Return and Allowances ). Bila penjualan semula dilakukan secara kredit, maka sisa transaksi tersebut dicatat sebagai kredit ke piutang dagang.
Jika uang tunai yang dikembalikan karena barang yang dikembalikan ataupun karena potongan harga, maka retur dan potongan penjualan didebet dan kas dikredit
POTONGAN PENJUALAN
Jika penjualan dilakukan secara kredit, maka syarat pembayaran dimasa akan datang harus ditetapkan dengan jelas, sehingga kedua pihak mengetahui berapa jumlah yang harus dibayar dan kapan pembayaran dilakukan. Syarat penjualan biasanya dicantumkan dalam faktur penjualan dan merupakan bagian dari perjanjian penjualan. Syarat perjanjian disebut juga dengan termin yang biasa ditulis 2/10, n/30, artinya adalah akan diberikan potongan 2% jika pembayaran dilakukan 10 hari sesudah tanggal faktur, tapi tidak melewati 30 hari sejak tanggal faktur.
Syarat penjualan kadang kala juga ditulis dengan symbol n/30 (n adalah singkatan dari netto) yang artinya harga faktur neto atau keseluruhan harga faktur harus dibayar dalam waktu 30 hari sesudah tanggal faktur, cara lain menyatakan syarat penjualan adalah misal n,10/EOM (End of Month) atau akhir bulan. Ini berarti faktur harus dibayar dalam waktu 10 hari sesudah akhir bulan, dihitung dari bulan yang tertulis pada faktur.
Gambar 9.3 : Faktur Penjualan
Sumber : Niswonger-Fess-Werren, Prinsip-prinsip Akuntansi,1994
Pada saat transaksi penjualan penjual belum mengetahui apakah pembeli akan memanfaatkan potongan atau tidak. Biasanya perusahaan mencatat penjualan sebesar harga faktur bruto.
Contoh :
Pada tanggal 20 Januari perusahaan Amazon menjual barang dagangan kepada seorang pembeli seharga Rp 10.000.000 secara kredit, dengan syarat 2/10,n/30. Jurnal untuk mencatat transaksi penjualan ini adalah :
20 Januari Piutang dagang Rp 10.000.000
Penjualan Rp 10.000.000
(Pencatatan penjualan barang dagangan dengan syarat 2/10,n/30)
Syarat penjualan diatas mempunyai arti bahwa perusahaan Amazon akan memberikan potongan 2% ( 2% x 10.000.000 = 200.000) jika pembeli melakukan pembayaran tidak melewati tanggal 30 Januari atau jika melewati tanggal 30 Januari tapi tidak lebih dari tanggal 19 Februari pembeli harus membayar penuh yaitu 10.000.000. Jurnal pencatatan transaksi tanggal 30 Januari adalah :
30 Januari Kas Rp 9.800.000
Potongan penjualan Rp 200.000
Piutang Dagang Rp 10.000.000
( Pencatatan penerimaan piutang dikurangi potongan 2%)
Seandainya pembeli melakukan pengembalian barang (retur) sebelum pembayaran dilakukan, maka potongan hanya dikenakan pada harga barang yang jadi dijual (tidak dikembalikan). Sebagai contoh seandainya konsumen yang melakukan pembelian pada tanggal 10 Januari seharga Rp 10.000.000 dengan syarat 2/10,n/30, pada tanggal 15 Januari mengembalikan barang yang rusak seharga Rp 2.000.000, maka harga faktur bruto atas barang yang jadi dibeli adalah Rp 8.000.000 (Rp 10.000.000 – Rp 2.000.000). Dengan demikian potongan tunai harus dihitung atas dasar harga Rp 8.000.000. Misalkan pembeli melakukan pembayaran tanggal 19 Januari maka ia akan mendapat potongan sebesar Rp 160.000 (2% x Rp 8.000.000). Jurnal yang dicatat adalah :
19 Januari Kas Rp 7.840.000
Potongan tunai penjualan Rp 160.000
Piutang dagang Rp 8.000.000
(untuk mencatat penerimaan piutang dengan potongan 2%)
Seandainya pembayaran piutang diterima tanggal 21 Januari, maka perusahaan, maka pembeli tidak memanfaatkan potongan, maka ia harus membayar penuh sebeesar Rp 8.000.000. Jurnal yang dilakukan adalah :
21 Januari Kas Rp 8.000.000
Piutang Dagang Rp 8.000.000
(Untuk mencatat penerimaan piutang dagang)
Contoh penyajian rekening-rekening tersebut dalam laporan rugi laba adalah :
PT Amazon
Laporan Rugi-Laba (sebagian)
Penjualan …………………………………………………… Rp 10.000.000
Kurangi : Retur dan Potongan penjualan Rp 250.000
Potongan Penjualan Rp 160.000
Rp 410.000
Penjualan bersih …………………………………………. Rp 9.590.000
Penilaian sediaan dalam pencatatan system perpetual
Dalam pencatatan system perpetual, setiap terjadi transaksi penjualan barang, harga pokok barang yang dijual harus di hitung dan dicatat debet pada akun harga pokok penjualan. Artinya penerapan metode penilaian sediaan dilakukan pada saat terjadi transaksi penjualan, untuk menentukan harga pokok barang yang dijual.
Sebagai ilustrasi, misalkan PD. PUTRA JAYA menjual barang dagang C-1, C-2, dan C-3. data mengenai sediaan barang jenis C-1, untuk bulan Mei 2004 sebagai berikut :
Mei 1, sediaan 120 unit @ Rp. 6.480.000 = Rp. 6.480.000
Mei 5, pembelian 180 unit @ Rp. 10.800.000 = Rp. 10.800.000
Mei 10, penjualan 200 unit @
Mei 16, pembelian 200 unit @ Rp. 63.000.000 = Rp. 12.600.000
Mei 20, pembelian 120 unit @ Rp. 64.000.000 = Rp. 7.680.000
Mei 26, penjualan 280 unit @
Penerapan metode Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP / FIFO)
Menurut metode MPKP, harga pokok barang yang dijual dihitung dengan anggapan bahwa barang yang pertama masuk adalah barang yang dijual lebih dulu. Kekurangannya diambil dari barang yang masuk berikutnya.
Metode masuk pertama keluar pertama beranggapan bahwa faktor-faktor biaya akan mengalir searah dengan urutan terjadinya biaya (masuk pertama keluar pertama). Metode ini terutama untuk barang-barang yang tidak tahan lama dan produk-produk yang modelnya cepat berubah.
Contoh: toko bahan makanan menyusun produk-produk susu dalam rak sesuai dengan tanggal kadaluwarsanya. menunjukkan penggunaan metode masuk pertama keluar pertama.
Dari data sediaan di atas, barng C-1 yang dijual dalam bulan Mei 2004, terdiri atas: 200 unit penjualan tanggal 10 Mei dan 280 unit penjualan tanggal 26 Mei. Harga pokok barang tersebut dihitung sebagai berikut:
Harga pokok barang C-1 yang dijual tanggal 10 Mei, sebanyak 200 unit, terdiri atas:
120 unit dari sediaan awal periode. Barang yang bersangkutan merupakan barang yang lebih dahulu masuk saat terjadi penjualan.
Harga pokok barang tersebut, 120 x Rp. 54.000...................... = Rp. 6.480.000
Kekurangannya sebanyak 80 unit, diambil dari barang yang di beli
tanggal 5 Mei, harga pokok, 80 x Rp. 60.000........................... = Rp. 4.800.000
Jumlah,………………………........... = Rp. 11.280.000
Harga pokok barang C-1 yang dijual tanggal 26 Mei sebanyak 280 unit, terdiri atas:
100 unit sisa barang yang dibeli tanggal 5 Mei
Harga pokok barang tersebut, 100 x Rp. 60.000....................... = Rp. 6.000.000
180 unit diambil dari barang yang dibeli tanggal 16 Mei
Harga pokok barang tersebut, 180 x Rp. 63.000....................... = Rp. 11.340.000
Jumlah................................................ = Rp. 17.340.000
Dari hasil penghitungan di atas, harga pokok barang C-1 yang dijual selama bulan Mei 2004, menurut metode MPKP (FIFO) adalah :
Harga pokok penjualan tanggal 10 Mei 2004,.................................. = Rp. 11.280.000
Harga pokok penjualan tanggal 26 Mei 2004,.................................. = Rp. 17.340.000
Jumlah............................................... = Rp. 28.620.000
Pencatatan dalam kartu persediaan :
PD PUTRA JAYA BANDUNG
Jenis barang : C-1
no.kode : C-021
KARTU SEDIAAN satuan unit
metode : MPKP (FIFO)
Tgl. no.buku Di terima Dikeluarkan Saldo
unit Harga(Rp) Jumlah unit harga satuan Jumlah unit harga satuan (Rp) Jumlah
2004
Mei-01 Saldo 120 54.000 6.480.000
Mei-06 F.665 180 60.000 10.800.000 120 54.000 6.480.000
180 60.000 10.800.000
Mei-10 F.121 120 54.000 6.480.000
80 60.000 4.800.000 100 60.000 6.000.000
Mei-16 F.685 200 63.000 12.600.000 100 60.000 600.000
200 63.000 12.600.000
Mei-20 F.696 120 64.000 7.680.000 100 60.000 6.000.000
200 63.000 12.600.000
120 64.000 7.680.000
Mei-26 F.144 100 60.000 6.000.000 20 63.000 1.260.000
180 63.000 11.340.000 120 64.000 7.680.000
Mei-31 jumlah 500 31.080.000 480 28.620.000 140 8.940.000
Kartu sediaan di atas memberikan informasi mengenai hal-hal berikut :
a. jenis barang, satuan,metode penilaian yang diterapkan
b. jumlah satuan dan jumlah harga barang C-1 yang dibeli selama bulan Mei 2004, yaitu sebanyak 500 unit dengan harga pembelian Rp. 31.080.000
c. jumlah satuan dan harga pokok barang C-1 yang dijual selama bulan Mei 2004, yaitu sebanyak 480 unit dengan harga pokok Rp. 28.620.000
d. jumlah satuan dan harga pokok barang C-1 yang masih tersedia pada tanggal 31 Mei 2004 (sediaan akhir periode), yaitu sebanyak 140 unit dengan harga pokok Rp. 8.940.000
Soal Latihan :
PD.GITA MANDIRI menjual satu jenis barang. Dalam buku besar tanggal 1 Januari 2004, akun sediaan menunjukkan saldo rp.40.000.000,00. jumlah tersebut terdiri atas 10.000 kg barang CK-1 @Rp.4.000,00. mutasi barang CK-1 bulan Januari 2004, sebagai berikut:
Januari 5, pembelian 8000kg @Rp.4.150,00, faktur no.216syarat pembayaran n/30
Januari 10, penjualan 14.000kg @Rp.7.000,00, faktur no.435 pembayaran 30 hari
Januari 16, pembelian 12.000kg@Rp.4.250,00, faktur no.238, syarat pembayaran n/30
Januari 18, retur pembelian barang dari faktur no.238 sebanyak 400kg @Rp.4.250,00, memo kredit no.011
Januari 19, pembelian 10.000kg @ Rp.4.000,00 faktur no.244 syarat pembayaran n/30
Januari 20, penjualan 18.000kg @Rp.6.500,00 faktur no.436 pembayaran n/30
Januari 24, penjualan retu barang dari faktur no.436 sebanyak 400kg @Rp.4.000,00. memo kredit no.22
Januari 26, pembelian 6000kg @Rp..4.250,00 faktur no.258 syarat pembayaran n/30
Catat data di atas ke dalam kartu persediaan barang metode FIFO, LIFO, dan Rata-rata bergerak sistem Perpetual.
Tuesday, 28 December 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment