Friday, 27 October 2017
Pakaian
Pakaian wanita dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung) . Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun binatang, atau di pasar-pasar.
Apakah pengertian jilbab? Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah”
Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).
Apabila ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
Dalil mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung) :
'Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.' (QS An Nuur : 31)
Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab) :
'Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.' (QS Al Ahzab : 59)
Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu 'Athiah RA, bahwa dia berkata :
'Rasulullah SAW memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata,’Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Maka Rasulullah SAW menjawab: 'Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!'(Muttafaqun ‘alaihi) (Al-Albani, 2001 : 82).
Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, Juz I hal. 388, mengatakan :
“Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar [rumah] jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).
Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu 'Athiah RA di atas, yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab –untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum)—maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi SAW tidak akan memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.
Untuk jilbab, disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terulur sampai ke bawah sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan : “yudniina ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka.).
Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Penafsiran ini –yaitu idnaa` berarti irkhaa` ila asfal-- diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda :
“Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi SAW menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’(yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab,’Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” (HR. At-Tirmidzi Juz III, hal. 47; hadits sahih) (Al-Albani, 2001 : 89)
Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi SAW, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah --yaitu jilbab-- telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.
Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan).(An-Nabhani, 1990 : 45-51)
*semoga dapat istiqomah dalam brpakaian seperti penjabaran di atas. Karna memang banyak ditemukan kendaladalam menerapkan pakaian sesuai Prinsip di atas.
Bberapa instansi terkadang tak menerima anggota instansinya sprti itu. Dan apabila anda trmasuk dlm org tersebut. Tetap istiqomah. Jadikan ladang dakwah. Dengan berbagai penjelasan Prinsip anda tersebut mu gkin beliau yg tidak tau akan menjadi tau. Semoga Allah memudahkan lisan kita seua utk menjelaskan Syariat tersebut. Selanjutnya, serahkan smua hasil perkara pada Allah SWT.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?[alankabut:2].
Keep istiqomah. Innallaha ma'ana.
Monday, 23 October 2017
Tuesday, 17 October 2017
Jika kelak aku menikah dengan yang sebaya, aku ingin melukis kisah semisal 'Ali dan Fathimatuzzahra. Keduanya, saling mencintai karena iman. Fathimah yang sabar walau suami pulang tanpa membawa harta, juga Ali yang tetap bertanggung jawab meski harus bekerja sebagai kuli dengan gaji segenggam kurma. Ah, indahnya... .
.
.
.
Jika kelak aku menikah dengan yang lebih tua, aku ingin memahat cerita seperti Usman bin 'Affan dan Naila as-Syam. Keduanya, tetap menyayangi walau yang satu telah beruban dan yang satu lagi berumur belasan. Duhai, sebaik-baik guru adalah suami yang shaleh. Maka Naila belajar pada Usman yang lebih dewasa. Belajar untuk semakin menshalehahkan diri, hingga, ia merelakan jemarinya putus karena menahan pedang musuh yang hendak membunuh suaminya. Dan seba'da Usman wafat, konon, Naila mencakar wajah cantiknya agar tak ada seorang pun yang mau melamarnya. Ia amat mencintai kekasih jiwanya. .
.
.
.
Jika kelak aku menikah dengan yang lebih muda, aku ingin mengukir cinta laksana Rasulullah SAW dan Khadijah al-Kubra. Keduanya, saling mengasihi sekaligus menebar cinta pada sesama. Khadijah adalah sebaik-baik istri, ia senantiasa menenangkan seperti seorang ibu, ia selalu menemani seolah sahabat sejati, ia mengorbankan harta benda demi dakwah sang suami. Dan sungguh hanya Khadijah-lah, cinta pertama yang tak pernah dimadu oleh sang Rasul. .
.
.
Di atas pernikahan, umur tak lagi jadi soalan. Sebab nikah adalah proses pendewasaan diri, proses perbaikan diri, dan proses menshalehakan diri. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai guru, kita hormat padanya. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai sahabat, kita tertawa bersamanya. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai adik, kita manjakan ia sepenuhnya. .
.
.
Sekali lagi setelah menikah, yang terpenting bukan tentang usia berapa, tapi tentang perjalanan seperti apa. Dan pastikan, perjalanan rumah tangga kita seperti pelangi, banyak warna yang menaungi.
Thursday, 31 August 2017
From hero to zero
Ust. Muhammad Nuzul Dzikri
-From hero to zero-
-From hero to zero-
Pola pikir seorang Muslim from hero to zero. APA maknanya?
Kita tidak akan menjadi muslim sejati, kalau kita merasa sebagai orang yg kaya, orang yang berkuasa, dan orang yang serba Memiliki.
Kita tidak akan menjadi muslim sejati, kalau kita merasa sebagai orang yg kaya, orang yang berkuasa, dan orang yang serba Memiliki.
- apabila rasa kaya, berkuasa, dan memiliki segalanya ini sudah merasuk dalam diri kita ~> Maka kita akan byak melakukan maksiat.
Tetapi
-apabila kita merasa lemah, miskin, Dan menyadari bahwa diri kita adalah hamba yang terbatas ~> Maka kita akan tunduk patuh terhadap Allah SWT
Tetapi
-apabila kita merasa lemah, miskin, Dan menyadari bahwa diri kita adalah hamba yang terbatas ~> Maka kita akan tunduk patuh terhadap Allah SWT
Kalimat Innalillahi wa innailaihi rajiun (kita ini milik Allah SWT dan kita akan kembali kepada Allah SWT) harus menjadi mind set yang ditekankan Pada seorang Muslim.
Karena kita (manusia) adalah hamba. Adapun pengertian dari hamba adalah titik nadir (yang lebih rendah) dari semua bawahan yang ada.
Analogi seorang hamba kita ambil dari seorang asisten. Inti tugas asisten apa sih? Ya inti tugas asisten adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Bukan melayani ataupu membantu.
Contoh: Anda punya asisten, tibatiba pagi hari pas Anda bangun tidur. Asisten Anda menyajikan beragam makanan kepada Anda ada sate, Soto, nasi goreng Dan lain sebagainya. Padahal Anda tidak memerintahkan hal tersebut pada asisten Anda. Tentunya Anda akan marah kan, dan tindaka seperti meupakan tindakan asisten yg salah.
Contoh: Anda punya asisten, tibatiba pagi hari pas Anda bangun tidur. Asisten Anda menyajikan beragam makanan kepada Anda ada sate, Soto, nasi goreng Dan lain sebagainya. Padahal Anda tidak memerintahkan hal tersebut pada asisten Anda. Tentunya Anda akan marah kan, dan tindaka seperti meupakan tindakan asisten yg salah.
Kembali ke tugas manusia (hamba) terdapat dalam Qs. Addzariat: 56. Dan Aku tidak menciptakan Jin Dan manusia kecuali untuk menghamba kepadaKu.
Menurut tafsir Al Imam Mujahid dari ayat di atas ~> Tidak Aku ciptakan Jin Dan manusia kecuali untuk diperintah dan dilarang.
Hal tersebut sesuai dengan kedudukan kita sebgai seorang hamba. Karna kita adalah hamba yg lemah, miskin, tidak punya apa apa. Oleh karena ITU, kita sering menyandarkan diri memohon kepada Allah SWT dengan kalimat:
Menurut tafsir Al Imam Mujahid dari ayat di atas ~> Tidak Aku ciptakan Jin Dan manusia kecuali untuk diperintah dan dilarang.
Hal tersebut sesuai dengan kedudukan kita sebgai seorang hamba. Karna kita adalah hamba yg lemah, miskin, tidak punya apa apa. Oleh karena ITU, kita sering menyandarkan diri memohon kepada Allah SWT dengan kalimat:
La haula wala kuwwata illa billah
"Tidak ada kekuatan Dan daya upaya kecuali pertolongan Allah SWT ".
"Tidak ada kekuatan Dan daya upaya kecuali pertolongan Allah SWT ".
Allah itu baik banget
Ust. Hanan Attaki
-Allah ITU baik banget-
-Allah ITU baik banget-
Bberapa orang merasa kurang beruntung dibandingkan orang lain. Merasa dirinya paling sengsara, merasa hidup di dunia ini tidak adil. Orang orang seperti ini adalah orang yang belum mengenal Allah SWT.
Berikut ini cerita tentang orang yg telah mengenal Allah SWT hingga menyebut bahwa Allah SWT maha baik banget.
Suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah, seorang gubernur sedang memantau rakyatnya. Tibalah dia di sebuah hutan. Dia pun menemukan ada sebuah gubuk kecil di tengah hutan. Dari luar gubuk tersebut, dia mendengar suara seorang laki laki yg terus menerus bertahmid kepada Allah SWT.
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ....
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ....
Abu Ubaidah pun semakin penasaran, dia kemudian masuk ke dalam gubuk Ternyata ketika memasuki gubuk tersebut, dia menemukan seorang kakek tua renta terbaring tidur di bawah tanah dan sedang bertahmid kepada Allah SWT. Kakek tersebut Ternyata tuna netra dan lumpuh.
Abu Ubaidah bertanya kepada kakek tersebut. "Sesungguhnya APA yg membuat kakek selalu bertahmid memuji Allah SWT. Saya penasaran APA yg kakek syukuri?"
Sang kakek pun menjawab. "Aku mensyukuri dua nikmat yang hanya diberikan kepada Allah SWT bagi hambaNya yang dicintaiNya.
Dua nikmat tersebut lebih aku cintai daripada dunia seisinya".
Sang kakek pun menjawab. "Aku mensyukuri dua nikmat yang hanya diberikan kepada Allah SWT bagi hambaNya yang dicintaiNya.
Dua nikmat tersebut lebih aku cintai daripada dunia seisinya".
Abu Ubaidah pun semakin penasaran sehingga dia bertanya. "nikmat seperti APA?"
Sang kakek menjawab. "Dua nikmat tersebut yaitu:
1. Hati yang selalu mampu bersyukur
2. Lisan yang selalu berdzikir."
Sang kakek menjawab. "Dua nikmat tersebut yaitu:
1. Hati yang selalu mampu bersyukur
2. Lisan yang selalu berdzikir."
Dari cerita di atas bahwa kesuksesan dunia, kekayaan materi diberikan Allah SWT kepada siapa saja baik dia mukmin atau kafir. Tapi kenikmatan memiliki hati yang selalu mampu bersyukur dan lisan yg selalu berdzikir hanya diberikan kepada orang yg dicintai oleh Allah SWT. Itulah pembeda antara orang yg mengenali Allah SWT dan yg tidak.
Indahnya menjadi orang yang saleh
Ust. Khalid Basalamah
-Indahnya menjadi orang yang saleh-
-Indahnya menjadi orang yang saleh-
Berikut ini 17 manfaat menjadi orang yang saleh.
1. Kehidupannya sejahtera (Qs.Annahl:67)
2. Keberuntungan bagi Mereka (Qs. Ar'ad:29)
3. Allah SWT membersihkan dosanya (Qs. almaidah:91)
4. Diberikan hidayah dan petunjuk (Qs. Yunus:9)
5. Allah SWT berkasih sayang dengannya (Qs. Maryam:96)
6. Derajat tinggi di surga (Qs. Toha:75)
7. Tidak ada ketakutan dan kekhawatiran (Qs. Almaidah:69)
8. Diberikan rezeki yang luas (Qs. Hajj:50)
9. Kedudukan yang tinggi di muka bumi (Qs. Annur:55)
10. Diberikan rahmat/karunia (Qs. Aljasiyah:30)
11. Diselamatkan dari segala kerugian (Qs. Al ashar 1-3)
12. Dicap oleh Allah SWT sebagai generasi terbaik manusia (Qs. Albayinah:7)
13. Allah SWT berjanji akan menemui orang saleh ketika di surga (Qs. Al kahfi:110)
14. Kita diperintah untuk menikah dg mereka (orang saleh) atau menikahkan saudara anak dg org saleh (Qs. Annur: 32)
15. Berdoa agar menjadi shalih shalihah bersama dengan kturunannya ("Qs. Al ahqaf:15)
16. Mendapat pahala yang berlipat ganda (Qs. Annisa: 173)
17. Puncaknya masuk ke dalam surga (Qs. Ghafir: 4)
1. Kehidupannya sejahtera (Qs.Annahl:67)
2. Keberuntungan bagi Mereka (Qs. Ar'ad:29)
3. Allah SWT membersihkan dosanya (Qs. almaidah:91)
4. Diberikan hidayah dan petunjuk (Qs. Yunus:9)
5. Allah SWT berkasih sayang dengannya (Qs. Maryam:96)
6. Derajat tinggi di surga (Qs. Toha:75)
7. Tidak ada ketakutan dan kekhawatiran (Qs. Almaidah:69)
8. Diberikan rezeki yang luas (Qs. Hajj:50)
9. Kedudukan yang tinggi di muka bumi (Qs. Annur:55)
10. Diberikan rahmat/karunia (Qs. Aljasiyah:30)
11. Diselamatkan dari segala kerugian (Qs. Al ashar 1-3)
12. Dicap oleh Allah SWT sebagai generasi terbaik manusia (Qs. Albayinah:7)
13. Allah SWT berjanji akan menemui orang saleh ketika di surga (Qs. Al kahfi:110)
14. Kita diperintah untuk menikah dg mereka (orang saleh) atau menikahkan saudara anak dg org saleh (Qs. Annur: 32)
15. Berdoa agar menjadi shalih shalihah bersama dengan kturunannya ("Qs. Al ahqaf:15)
16. Mendapat pahala yang berlipat ganda (Qs. Annisa: 173)
17. Puncaknya masuk ke dalam surga (Qs. Ghafir: 4)
Rencanakan ibadahmu
Ust. Adi Hidayat
-Rencanakan Ibadahmu-
-Rencanakan Ibadahmu-
Ibadah tidak bisa hanya hobi atau cuma ingin saja. Semua harus terencana (mau haji, infaq, tahajud semua harus direncanakan termasuk kapan merubah lingkungan.
Adapun penyakit turunan iblis berupa kepalang tanggung jangan diikuti. Dulu Adam di surga melakukan kesalahan segera bertobat, iblis tidak krna dia punya penyakit kepala tanggung. Sudah berbuat dosa skalian aja memohon menggoda anak Adam n kturunannya.
Ada kesempatan untuk berubah, kenapa tidak direncanakan saja. Kebaikan akan menjadi lebih mudah apabila terlebih dahulu direncanakan. Apalagi kalau ingin masuk surga.
Akan masuk surga, Rencanakan. Surga yang mana yang akan dipilih lalu lihat amalan yang harus dikerjakan kemudian terapkan.
Secara umum, ada 4 bagian surga.
1. Surga bersama rasul
1. Surga bersama rasul
Allah SWT berfirman:
"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri."
"Memandang Tuhannya."
(QS. Al-Qiyamah: Ayat 22-23)
"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri."
"Memandang Tuhannya."
(QS. Al-Qiyamah: Ayat 22-23)
Surga ini adalah surga yg ditempati orang orang dengan wajah berseri. Amalan yang dibutuhkan yaitu amalan yang mencontoh rosul. Bukan cuma Cara sholat rosul, tetapi juga perbuatan rosul dari bangun tidur sampai tidur kembali.
Allah SWT berfirman: "Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 31)
(QS. Ali 'Imran: Ayat 31)
Di dunia akan meninggal, namun di akhirat akan kekal. Rugi sekali apabila selama hidup abadi tersebut tidak pernah melihat rosul apalagi dapat bersamanya.
2. Surga di taman surga
Allah SWT berfirman:
15. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air,
16. mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu(di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik;
17. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;
18. dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah) .
19. Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.
20. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,
21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
22. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.
23. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan. (51: 15-23)
15. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air,
16. mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu(di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik;
17. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;
18. dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah) .
19. Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.
20. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,
21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
22. Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.
23. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan. (51: 15-23)
Berdasarkan ayat di atas, amalan untuk surga bagian ini terdiri dari:
a. Orang-orang yang berbuat baik semasa di dunia. Waktunya di dunia selau digunakan untuk kebaikan.
b. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; (memperbanyak sholat tahajud)
c. Pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah) .(memperbanyak istighfar setiap malam)
d. Pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta. (Orang yg mengejar surga tingkat dua ini tidak hanya menunggu orang meminta, tetapi dia juga mengejar siapa saja yg membutuhkan untuk diberikan shodaqoh)
b. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; (memperbanyak sholat tahajud)
c. Pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah) .(memperbanyak istighfar setiap malam)
d. Pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta. (Orang yg mengejar surga tingkat dua ini tidak hanya menunggu orang meminta, tetapi dia juga mengejar siapa saja yg membutuhkan untuk diberikan shodaqoh)
3. Surga seluas langit Dan bumi
Allah SWT berfirman:
133. Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.
133. Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Amalan untuk memperoleh surga ini:
a. Bertaqwa kepada Allah
b. Berinfak di waktu yg lapang Dan sempit
c. Orang yg menahan amarah Dan mampu memaafkan kesalahan orang lain.
a. Bertaqwa kepada Allah
b. Berinfak di waktu yg lapang Dan sempit
c. Orang yg menahan amarah Dan mampu memaafkan kesalahan orang lain.
4. Surga kelas ekonomi
Surga ini ya surga saja. Walau begitu keindahan surga ini diceritakan oleh nabi bahwa surga ini memiiki keindahan yg belum pernah dilihat oleh Mata, didengar oleh telinga, ataupun dibayangkan.
Surga ini ya surga saja. Walau begitu keindahan surga ini diceritakan oleh nabi bahwa surga ini memiiki keindahan yg belum pernah dilihat oleh Mata, didengar oleh telinga, ataupun dibayangkan.
Dalam HR. Bukhori, diceritakan bahwa ada seorang badui yg bertanya kpad rosul aku tidak bisa melaksanakan amalan untuk mencapai bagian surga 1, 2, dan 3. Ajarkan kepadaku amalan ringan tapi bisa masuk surga! Rosul menjawab; cukuplah kamu menunaikan ibadah fardhu dengan istiqomah Maka kamu akan masuk surga.
Boleh saja menargetkan untuk menggapai surga no 4 tetapi ingat rumus kebaikan ini:
Rumus mengejar kebaikan ITU raih yg paling tinggi terlebih dahulu, apabila target amalannya kurang akan bisa masuk ke surga bagian selanjutnya 2 3 atau 4. Namun, apabila targetmu yg no 4 Maka jika amalan tidak terpenuhi Maka naudzubilah akan keluar dari ranah surga justru ke neraka.
Rumus mengejar kebaikan ITU raih yg paling tinggi terlebih dahulu, apabila target amalannya kurang akan bisa masuk ke surga bagian selanjutnya 2 3 atau 4. Namun, apabila targetmu yg no 4 Maka jika amalan tidak terpenuhi Maka naudzubilah akan keluar dari ranah surga justru ke neraka.
* dunia bisa direncanakan, tetapi sering Kali manusia lupa merencanakan tentang akhiratnya.
* kalau sudah terbuka kebaikan dengan menentukan recana ibadah Maka berjuanglah terus.
Dan jangan Egois, mementingka diri sendiri. Ajak serta keluarga kerabat Dan teman.
* kalau sudah terbuka kebaikan dengan menentukan recana ibadah Maka berjuanglah terus.
Dan jangan Egois, mementingka diri sendiri. Ajak serta keluarga kerabat Dan teman.
Allah SWT berfirman:
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia (52:21)
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia (52:21)
*Bukankah lebih Indah jika kita dapat bersama sama di surga.
Di setiap kebaikan untuk menuju surga. Alah menyuruh untuk selalu berjuang dengan sungguh sungguh.
Sebagaimana Allah SWT berfirman:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh mala petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman yang bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah." Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (2:214)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh mala petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman yang bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah." Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (2:214)
*setiap kebaikan level keimanan, tentunya kita diuji. Allah sangat ingin hambaNya mensyukuriNya.
Allah SWT berfirman:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 142).
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 142).
Subscribe to:
Comments (Atom)



